MUSLIMPRENEUR : Jurnal Ekonomi dan Kajian Keislaman https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur <p><strong>Muslimpreneur</strong> merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ekonomi Islam Institut Agama Islam (IAI) Nurul Hakim di bawah naungan LP2M IAI Nurul Hakim. Jurnal Muslimpreneur mempublikasikan hasil penelitian seputar ekonomi, bisnis dan perbankan Islam.</p> <p>Kami mengundang para akademisi serta menerbitkan untuk diterbitkan dalam jurnal kami yang akan segera diterbitkan</p> <p> </p> en-US shendriksaleh@gmail.com (Hendri Saleh, S.H., M.H) muslimpreneur29@gmail.com (Antoni, M.M) Mon, 31 Jan 2022 07:05:56 +0800 OJS 3.2.1.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Islamic Economic Development Strategy According to Adiwarman Azwar Karim https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/132 <p>Adiwarman Azwar Karim is one of the experts in the field of Islamic economics so that he is included in the list of fundamentalist Muslim thinkers. His contribution to the development of Islamic banking and economics in Indonesia is not only as a practitioner, but also as an academic. The method in this study is a qualitative literature review. The Islamic economic development strategy that he designed has three levels, namely Islamic economic theory, Islamic economic system, and Muslim economy. The three levels refer to the components of language, discourse, main actors, and arguments related to the development of Islamic economics. When one of these levels is not achieved, it will not result in the establishment of Islam in the economic field. A strong Islamic economic theory without the implementation of the system will not have an impact on economic life.</p> Musa Copyright (c) 2022 MUSLIMPRENEUR : Jurnal Ekonomi dan Kajian Keislaman https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/132 Sat, 29 Jan 2022 00:00:00 +0800 SIAPKAH UUS UNTUK SPIN-OFF? ANALISIS KINERJA KEUANGAN UUS DI INDONESIA https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/133 <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja Unit Usaha Syariah (UUS) di Indonesia dalam hal kesiapannya menuju kewajiban spin-off yang berakhir pada tahun 2023. Konsekuensi bagi UUS yang tidak patuh atau belum siap adalah pencabutan izin operasional yang berarti akan mengurangi market share perbankan syariah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan sumber data sekunder yang diambil dari laporan keuangan masing-masing UUS di Indonesia. Data yang di analisis meliputi kriteria aset menurut BI terkait spin-off dan kinerja keuangan berupa profil risiko (NPF dan FDR) serta rentabilitas. Metode analisis mengunakan metode Risk-Based Bank Rating (RBBR) yang tercantum dalam peraturan OJK No.8/POJK.03/2014. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa UUS yang benar-benar siap untuk melakukan spin-off hanya berjumlah 6 unit berdasarkan analisis NPF, FDR dan ROA serta kriteria aset BI. Sedangkan 14 sisanya masih memiliki kekurangan dalam aset dan kinerja keuangannya. Kondisi pandemi juga menambah pertimbangan stakeholder untuk melakukan spin-off karena di sisi lain mereka harus mencadangkan lebih banyak uang untuk menghindari risiko Non-Performing Financing (NPF). Hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi sebagai bahan pertimbangan dalam penerapan kebijakan spin-off, apakah sudah tepat untuk diterapkan dengan konsekuensi akan terdapat UUS yang dicabut izin operasionalnya atau diterapkan dengan beberapa penyesuaian.</em></p> Achmad Jufri dkk Copyright (c) 2022 MUSLIMPRENEUR : Jurnal Ekonomi dan Kajian Keislaman https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/133 Sat, 29 Jan 2022 00:00:00 +0800 KONSEP DENDA DALAM LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH (Analisa Terhadap Fatwa Dewan Syari’ah Nasional MUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000) https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/137 <p>Konseptualisas fatwa DSN-MUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000 tentang sanksi bagi nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran.&nbsp; Lahirnya fatwa DSNMUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000 tetang sanksi bagi nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi syariah yang terus berkembang sehingga diperlukan landasan-landasan dari fatwa DSNMUI. dalam&nbsp; bidang Lembaga Keuangan Syariah di bawah naungan MUI.</p> <p>Konstruksi konsep <em>syarth jaza’i</em> dalam fatwa DSN-MUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000 berupa tiga konsep yaitu 1)&nbsp; syarth <em>jaza’i</em> adalah pemberian sanksi berupa denda sejumlah uang oleh lembaga keuangan syariah (LKS) kepada nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran yang besaran dendanya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. 2) Prinsip dalam syarth jaza’i yaitu tidak boleh diberlakukan <em>syarth jaza’i</em> bagi nasabah yang menunda pembayaran dikarenakan faktor force majeur, tujuan dalam penerapan sanksi atas nasabah mampu adalah agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya (prinsip ta’zir), dan dana yang didapatkan dari pemberlakuan syarth jaza’i tidak boleh diklaim sebagai salah satu pendapatan lembaga keuangan syariah (LKS), namun sebagai dana sosial. 3) Akad-akad yang diperbolehkan dalam syarth jaza’i versi DSN-MUI yaitu Murabahah, al-Qardh, Salam, Istishna dan Ijarah.</p> Samsul Karmaen Samsul Copyright (c) 2022 MUSLIMPRENEUR : Jurnal Ekonomi dan Kajian Keislaman https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/137 Sat, 29 Jan 2022 00:00:00 +0800 PERAN PESANTREN NURUL HAKIM KEDIRI DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/142 <p>Posisi pesantren dalam gerakan sosial sangat dominan di bidang penggarapan manusianya. Hal ini sangat erat hubungannya dengan ciri-ciri pesantren sebagai lembaga kemasyarakatan. &nbsp;Aspek-aspek ini sangat relevan dengan mempersiapkan individu atau masyarakat kearah pribadi yang siap pakai baik moril maupun materil.</p> <p>Penggarapan manusia, baik sebagai individu atau dalam lingkup masyarakat yang menjadi tugas penting pesantren ternyata memiliki persinggungan dengan hakikat pemberdayaan. Dalam aras atau matra pemberdayaan jelas disebutkan bahwa&nbsp; pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan (<em>empowerment setting</em>): mikro, mezzo dan makro.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri kemudian mengambil peran yang besar dalam rangka memberdayakan masyarakat sekitar pondok sebagai bentuk pengejewantahan tugas mulianya menggarap manusia untuk menjadi manusia aktif, kreatif dan produktif. Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri nyata memperlihatkan&nbsp; eksistensiya dalam rangka memberdayakan masyarakat sekitar. Kontribusi pondok pesantren wujud dengan kemampuannya menjadi penyedia lapangan kerja buat masyarakat, bermitra dengan masyarakat dengan ragam usaha seperti jasa <em>loundry</em>, percetakan, kantin dan lain-lain yang semuanya jelas bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan memberdayakan masyarakat.</p> Sahirul Alim Copyright (c) 2022 MUSLIMPRENEUR : Jurnal Ekonomi dan Kajian Keislaman https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/142 Sat, 29 Jan 2022 00:00:00 +0800 ANALISIS PERILAKU KONSUMSI SANTRIWATI PONDOK PESANTREN NURUL HAKIM MENURUT PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM (Study Kasus : Dapur B Asrama Putri Barat) https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/143 <p>Pokok masalah dari penelitian ini adalah bagaimana perilaku konsumsi santriwati dalam memenuhi kebutuhan primer dan apakah perilaku konsumsi santriwati sudah benar berdasar prinsip konsumsi dalam islam.</p> <p>Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dengan tiga kegiatan yaitu, observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul.</p> <p>Penelitian ini menemukan bahwa perilaku konsumsi santriwati dalam memenuhi kebutuhan primer (<em>dharuriyat</em>) dilihat dari jenis makanan yang dikonsumsi, cara mengkonsumsi dan kuantitas makanan yang dikonsumsi belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip dan etika konsumsi dalam islam. Dari segi etika kebanyakan santriwati tidak memperhatikan etika atau adab konsumsi berdasar yang diajarkan Nabi, seperti meniup makanan saat masih panas, terkadang makan sambil berdiri, dan tidak membaca doa setelah mengkonsumsi makanan. Sedangkan dari segi prinsip santriwati belum menerapkan prinsip sederhana dalam berkonsumsi, hal ini terlihat dari kebiasaan mereka yang kerap kali mubadzir makanan atau tidak mengkonsumsi makanan dengan baik.</p> Iman Hidayatullah Iman Copyright (c) 2022 MUSLIMPRENEUR : Jurnal Ekonomi dan Kajian Keislaman https://ejournal.iainh.ac.id/index.php/muslimpreneur/article/view/143 Sat, 29 Jan 2022 00:00:00 +0800